Makam Tan Malaka dibongkar

TanMalakkaPENELITIAN MAKAM, Tim Forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) meneliti sejumlah gigi saat pembongkaran makam yang diduga makam Tan Malaka di Kediri, kemarin.

KEDIRI (SI) – Setelah tertunda beberapa kali tanpa kejelasan, makam tua di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, yang diduga sebagai peristirahatan terakhir Datuk Sutan Ibrahim atau Tan Malaka akhirnya dibongkar,kemarin. Sebanyak 19 panitia,termasuk tim forensik, serta kerabat penulis buku Madilog (Materalisme Dialektik Logika) ini melakukan pembongkaran gundukan pusara selama tiga jam.

Dari kedalaman sekitar 2 meter, tim penggali menemukan sebuah batok kepala yang diduga tengkorak Tan Malaka. Menurut Zulfikar, keponakan mendiang Tan Malaka, selain tengkorak yang sudah rusak, tim juga menemukan beberapa gigi yang telah tanggal. Semua ”perabot”manusia ini disinyalir milik Tan Malaka.

Hal itu didasarkan dari keterangan sejumlah saksi sejarah bahwa warga Sumatera Barat yang juga Ketua Komintern Asia (komunis internasional) ini dieksekusi tentara di sekitar lokasi makam.”Semua yang kita temukan keadaannya sudah rusak,” kata Zulfikar kepada wartawan.

Ketua Tim Penggali Makam Tan Malaka dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, dr Jaya Surya Admaja mengatakan,akan membawa batok kepala dan gigi yang diduga milik Tan Malaka ke Jakarta. Secara medis, organ pendiri Partai Murba ini akan dicocokkan dengan DNA kerabat yang masih hidup yakni Zulfikar.

”Sekitar dua minggu kemudian hasilnya baru bisa kita ketahui,”papar Surya. Selain 19 orang tim panitia, penggalian yang berlangsung sejak pukul 12.00 WIB itu juga disaksikan muspika Kecamatan Semen, sejumlah perangkat desa, serta puluhan anggota masyarakat di sekitar makam. Proses pengangkatan organ dari dalam kubur ini berjalan lancar sesuai rencana.

Jika memang tengkorak yang ditemukan tersebut benar sebagai Tan Malaka,pihak kerabat meminta pemerintah memperlakukan lazimnya seorang pahlawan.Sebab di masa pemerintahan Orde Lama, mantan Presiden Soekarno pernah mengeluarkan surat keputusan yang isinya menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional.

”Termasuk juga dimakamkan secara layak,”tambah Zulfikar.Setelah melakukan penggalian, rombongan tim penggali makam Tan Malaka langsung bertolak ke Jakarta. Kerangka yang diambil akan diteliti oleh tim ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penelitian atas sosok Tan Malaka pernah dilakukan sejarawan Belanda,HarryA Poeze,sejak 1971.

Dalam penelitiannya, Harry menyebutkan, Tan Malaka dibunuh pasukan Batalyon Sikatan pada 21 Februari 1949.Tubuh Tan Malaka lalu dikuburkan di Desa Selopanggung tanpa disertai batu nisan. Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat,19 Februari 1896.Dia adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan politisi yang mendirikan Partai Murba.

Pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Berdasarkan ensiklopedi wikipedia, Tan Malaka kukuh mengkritik pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia.

Walaupun disebut-sebut berpandangan komunis,dia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan,

Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai ”Pahlawan Revolusi Nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963. Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang.

Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat. Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh ”sekelompok orang tak dikenal” di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda. (solichan arif) sumber : koran sindo

tm
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s