Hanya dalam 15 menit kapal itu lenyap

Tragedi tenggelamnya kapal Dumai Express 10 tujuan Batam-Dumai di perairan Tokong Hiu Karimun di ordinat 01 12 500 U dan 103 20 300 T, Minggu (22/11), sementara diduga karena kerasnya hantaman gelombang. Akibatnya, sisi kanan depan kapal terpecah menjadi dua.

“Bagian kanan depan kapal pecah dua,” ujar Komandan Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun (Danlanal Tbk) Letkol Edwin kepada Tribun seusai dievakuasi di Lanal Tbk.

Menurut saksi korban selamat, Fariz Khairumanah (24), Tomy Gunawan (23), dan Masdianto (29), kejadian ini diawali pecahnya sisi kanan depan kapal yang berada persis di depan bangku yang mereka duduki. Keduanya terperenyak saat mendengar suara keras itu, tak berapa lama bagian depan terlihat sudah terpisah dua. “Saya lihat bagian depan kapal sudah terpisah dua dan saking kerasnya televisi di depan kami sampai terjatuh,” ujar Fariz yang diiyakan Tomy di tempat evakuasi di Lanal Tbk.

Hanya dalam hitungan detik, air laut sudah masuk setinggi lutut penumpang. Penumpang yang berada di urutan depan bagian bawah kapal mulai panik. “Saya lihat penumpang tidak sempat lagi ambil jaket (pelampung keselamatan), langsung berhamburan ke bagian belakang kapal,” katanya.

Melihat kondisi itu, ketiga pria yang baru saling kenal itu tak mau terlihat panik bagi penumpang lainnya. Dia berusaha tenang dan mengimbau anak-anak dan ibu-ibu didahulukan. “Namun, sayangnya banyak keluarga yang saya lihat pasrah dan diam saja di bangkunya,” ungkap Masdianto.

Sekitar lima menit insiden tabrakan terjadi, sekitar 100 penumpang lainnya sudah berada di atas kapal. Sebelumnya ada yang menyelamatkan diri dengan cara melompat melalui jendela yang dipecahkan, ada juga yang masih menunggu dan berharap bantuan segera datang.

“Saya lihat kapal perlahan sudah mulai tenggelam. Saya lihat tak ada satu pun orang yang mau melompat dari atas kapal. Lalu saya berinisiatif menjadi yang melompat pertama, dan untungnya diikuti penumpang lainnya,” ujar Fariz.

Inisiatif Fariz patut diancungi jempol. Jika tidak segera melompat dan menjauh dari kapal, korban akan bertambah banyak karena penumpang akan terbawa arus kapal yang akan tenggelam.

“Kalau tidak melompat dan menjauh dari kapal yang sudah nyaris tenggelam itu, saya berpikir ini akan banyak makan korban. Sebab, penumpang pasti akan ikut terbawa arus ke dasar kapal kalau kapal tenggelam. Makanya saya inisiatif lompat paling awal,” ungkapnya.

Setelah melompat, Fariz berenang sebisanya. Dalam hitungan 15 menit kemudian seluruh badan kapal menghilang ditelan lautan. Adegan dramatis masih terjadi ketika Fariz harus melihat bayi dan ibu-ibu muda sudah tak bernyawa satu per satu mengapung di depan matanya.

Tak berapa lama bantuan pun datang. Nelayan yang sedang berada di sekitar lokasi kejadian kemudian memberikan pertolongan kepada sejumlah korban. “Mohon sampaikan terima kasih saya kepada para nelayan yang paling berjasa membantu menyelamatkan kami,” ujar Fariz dan Tomy lebih lanjut. (msa) sumber : kompas.com

Diterbitkan oleh krishnabalagita

My name is Krishna, I'm a musician from Indonesia...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: