Membuat Gamelan “Urip Golek Urup”

Orang kini mengenalnya sebagai empu gamelan. Ribuan instrumen gamelan yang digunakan di Jawa dan sejumlah daerah di Nusantara, bahkan tersebar di beberapa negara, telah melewati tangannya.

Keahliannya membuat gamelan membuat namanya tersohor di kalangan perajin gamelan.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Dasah Pujo Suwarno (69), yang kini terkenal sebagai empu gamelan, harus melewati kepahitan hidup. Puluhan tahun ia mengadu nasib demi meraih sebuah kehidupan yang lebih baik. ”Uripe niku ya golek urup (Hidup itu untuk mencari cahaya hidup),” kata Dasah saat ditemui, Minggu (29/11), di sela-sela Gamelan Maker Festival 2009 di Lapangan Kotakan, Bakalan, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pada usia tiga tahun, Dasah telah menjadi yatim. Adik bungsunya berusia enam bulan. Bersama tiga kakaknya dan ibunya, Dasah meneruskan hidup, melawan kemiskinan.

Ia sempat menikmati sekolah rakyat. Namun, belum sampai tiga tahun sekolah, ia memilih berhenti karena ibunya tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. ”Baju sekolah hanya satu. Saya malu sekali karena baju tidak pernah diganti. Tak kuat menahan malu, saya berhenti sekolah,” papar Dasah.

Pada usia sekitar 12 tahun, Dasah memulai perjuangan mencari hidup yang lebih baik di tempat perajin setrika yang menggunakan arang. Tugasnya mengecat bagian ayam jago, penutup setrika, dengan upah Rp 4 per hari.

Uang hasil kerjanya itu ditabung untuk membeli baju dan dikenakan saat ia disunat. Dasah lalu bertekad mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia bekerja kepada juragan batik dan belajar membatik dengan cap, dengan upah Rp 20 per hari. ”Tiap sore saya memberikan ibu Rp 5. Ibu saya senang bukan main karena bisa beli beras. Sejak kecil saya makan tiwul. Keluarga kami jarang makan nasi putih,” ujarnya.

Sejak tahun 1960, Dasah tertarik bekerja sebagai pembuat gamelan. Ia memberanikan diri masuk ke besalen (tempat pembuatan gamelan) di Pura Mangkunegara Surakarta dan berguru kepada empu gamelan keraton, Guno Pawiro Sutomo. Saat banjir besar melanda Solo tahun 1966, Dasah berhenti bekerja sebagai perajin gamelan dan kembali bekerja pada juragan batik di Kauman.

Lima tahun kemudian, setelah menikah, Dasah kembali ke gamelan. Kali ini ia serius mendalami gamelan, dengan menimba ilmu pembuatan gamelan pada beberapa empu gamelan di Surakarta. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara VIII, menurut Dasah, adalah guru gamelan yang luar biasa.

Sejak itulah kehidupan ritual pun mulai dijalani, baik puasa maupun meditasi di Sungai Bengawan Solo. Puluhan kali ia berpindah kerja dari besalen ke besalen lain sambil mengumpulkan modal hingga akhirnya tahun 1989 mendirikan besalen sendiri di tanah kelahirannya, Dusun Jatiteken, Laban, Mojolaban, Sukoharjo. Di besalen yang diberinya nama Sumber Gong Sopo Nyono, Dasah pun memproduksi gamelan.

Berbagai pesanan gamelan dalam jumlah kecil hingga besar berdatangan. Namanya makin tersohor. Bahkan, ia juga membuat gamelan Sunda. Ia dipercaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat 30-an set gamelan Sunda pesanan tujuh negara: Irak, Swiss, Perancis, Australia, Lebanon, Amerika Serikat, dan Jepang.

Dasah hanyalah salah satu dari 19 pemilik besalen di Kabupaten Sukoharjo. Dalam Gamelan Maker Festival 2009 yang dilaksanakan Sabtu lalu, Dasah tampil bersama empat empu gamelan. Mereka adalah Saroyo, pemilik besalen Palu Gongso, spesialis pembuat gong ageng (gong besar); Saleh Sutomo, pemilik besalen Laras Utomo, ahli membuat bonang dengan suara berkualitas; Pardiyo Wito Hartono, pemilik besalen Gongso Pardiyo, ahli membuat instrumen gamelan bilah, yakni saron peking, sarong demung, dan slenthem. Yang terakhir Suparno atau Wockhing, pemilik besalen Gongso Mudo, ahli memadukan campuran bahan timah dan tembaga sebagai materi gamelan.

Seperti Dasah, keempat empu gamelan itu juga mengaku belajar membuat gamelan dari besalen ke besalen hingga akhirnya mendirikan besalen sendiri. Perjuangan panjang mencari hidup yang lebih baik menjadi bagian hidup para empu.

Saroyo, misalnya, empu gamelan keturunan dari Mbah Reso, empu gamelan dari Keraton Surakarta, merintis pembuatan gamelan 25 tahun lalu. Kendati mampu membuat semua instrumen gamelan, Saroyo pakar membuat gong. Sejumlah pejabat dan pengusaha, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memesan gong di tempatnya.

Pelajaran hidup yang panjang membuat para empu gamelan ini percaya bahwa hidup diatur oleh Sang Pencipta Jagat. ”Saya selalu meminta kekuatan dari yang punya jagat ini agar bisa terus membuat gamelan dan bisa mencari hidup lebih baik,” ujar Dasah.

Bahkan, bagi Saroyo, pada awal bekerja membuat gamelan, tujuannya untuk hidup. ”Dulu saya kerja buat gamelan itu hanya untuk makan, enggak ada gaji,” katanya.

sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s