Lawan China, Indonesia Butuh 100 Ribu Doktor

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengungkapkan Indonesia membutuhkan 75.000 – 100.000 doktor agar mampu bersaing dengan China dan India dalam 25 tahun mendatang.

“Kita butuh tenaga lulusan Phd sebanyak itu jika tak mau tenggelam melawan China dan India,” ujar Gita saat ditanya kembali oleh VIVAnews seusai berbincang dengan Editor Club di Jakarta, Kamis malam, 11 Februari 2010.

China dan India, merupakan dua calon raksasa ekonomi baru dunia. Pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut rata-rata sangat tinggi, bahkan pertumbuhan China sebelumnya rata-rata 10 persen. Ribuan pelajar dari negeri itu berbondong-bondong menyerbu sekolah favorit di negara-negara barat.

Pada 2007, China sudah mengungguli Jerman sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan Jepang. Bahkan, China kini dijagokan bisa menyalip Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia. Kemungkinan itu semakin kuat bahwa China bakal merebut posisi Jepang sebagai negara ekonomi terkuat kedua di dunia di bawah AS.

Di Indonesia, China kini juga sudah menjadi eksportir barang terbesar. Bahkan, sudah menaklukkan Jepang sejak 2007 lalu.

Indonesia juga bermimpi menjadi salah satu calon kekuatan ekonomi dunia dengan niat menggenjot pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen. Namun, bangsa ini masih terus disibukkan dengan urusan keributan domestik yang terus mengusik.

Gita menekankan saat ini saja, setiap tahun China telah meluluskan ribuan doktor. Begitupun dengan India. Pada 25 tahun lagi, diperkirakan total jumlah doktor dari China akan melebihi Amerika Serikat.

Sedangkan, Indonesia masih jauh. Dia memberi contoh salah satu sekolah favorit di Inggris, University of Cambridge. Di perguruan tinggi itu, dari total pelajar asing sebanyak 700-an asal Amerika Serikat, 600 dari China, 400-500an dari India, serta 250 pelajar asal Singapura.

“Dari Indonesia berapa coba, cuma 7 orang. Ini sungguh menyedihkan,” kata Gita. Menurut dia, di negara lain, seperti Singapura, pendidikan menjadi investasi yang sangat berharga, bahkan mereka sudah memikirkan sejak dari TK.

Padahal, Gita menekankan agar bangsa Indonesia mampu bersaing di percaturan ekonomi global, negeri ini membutuhkan tenaga berpendidikan tinggi yang semakin banyak. Ironisnya, pelajar Indonesia yang sekolah di luar negeri berkurang dibandingkan pada era 1980-1990an.

“Kita akan susah bersaing melawan China dan India jika terus seperti sekarang,” katanya.

sumber : vivanews

One comment

  1. karena pendidikan politik yang salah dan membuat masyarakat berpikir jangka pendek, maka sepertinya masalah pendidikan yang jangka panjang dikesampingkan. Contoh, masyarakat sekarang lebih memfaforitkan anaknya sekolah SMK dan jika lulus bisa langsung kerja padahal masih ada jenjang yang harus di lalui agar bangsa ini tak hanya bisa menjadi bangsa pekerja tetapi juga bangsa juragan.
    ai lop yu Indonesia….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s