Mendung Skandal Menggelayuti Paskah

Skandal para imam paedofilia yang menguncang Gereja Katolik Roma menyelubungi perayaan Kamis Putih walau Paus Benediktus XVI tidak menyinggung hal itu secara langsung. Paus merayakan misa Kamis Putih di Gereja Santo Yohanes di Basilika Lateran Roma dan mengenang Perjamuan Terakhir Kristus dengan membasuh kaki 12 imam yang mewakili para rasul, sebagai simbol kerendahan hati.

Kamis pagi, Paus menyinggung tentang skandal pelecehan itu secara tidak langsung ketika ia menyampaikan khotbah mengenai ajaran Yesus tentang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (berikan pipi kirimu jika pipi kananmu ditampar). “Ketika Dia dihina, Dia tidak balas menghina; ketika Dia menderita, Dia tidak mengancam, tetapi Dia percaya kepada Allah yang menghakimi dengan adil,” kata Paus pada khotbah misa Pembaruan Janji Krisma di Basilika Santo Petrus.

Skandal-skandal itu telah melanda gereja-gereja di Eropa dan Amerika Serikat (AS) selama lima bulan terakhir. Benediktus sendiri mendapat tekanan kuat terus-menerus dengan tuduhan yang diterbitkan harian New York Times, yang menyinggung keterkaitan Paus ketika dia masih menjabat sebagai Uskup Agung Munich dan kemudian sebagai kepala Kongregasi Doktrin Iman (CDF) di Vatikan. Ketika itu, ia dinilai gagal bertindak tegas terhadap para imam yang dituduh melakukan pelecehan terhadap anak-anak.

Paus (82) menerima dukungan dari gereja Katolik AS, Kamis lalu, yang membelanya dan mencatat rekornya dalam memerangi imam predator. Sri Paus dipuji karena memperkenalkan langkah-langkah maju dalam memerangi momok itu. “Adalah Paus Benediktus yang, dalam berbagai cara, memberi kami kemampuan untuk mengatasi krisis ini lebih cepat dan dalam sebuah cara yang membantu kesembuhan,” kata Uskup Chicago, Francis George, dalam wawancara dengan Radio Vatikan.

George mengatakan bahwa Paus, ketika masih menjadi Kardinal Joseph Ratzinger, sebagai kepala CDF “memampukan kami menjauhkan para predator dari imamat secara permanen dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan, mendorong kami untuk mengulurkan tangan kepada korban”. Benediktus mengepalai CDF dari 1981 hingga 2005.

Rabu malam, kepala CDF saat ini, Kardinal William Levada, mengecam artikel Times itu dengan mengatakannya tidak memenuhi standar keadilan dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs Vatikan.

Di AS, seorang pengacara, Selasa, memohon ke pengadilan agar Benediktus ditanyai mengenai apakah Vatikan mengetahui tentang skandal yang telah lama berjalan ini. Dalam permohonan tersebut dikatakan bahwa Benediktus menyadari adanya pelecehan seks yang dilakukan para pastor di AS dan bahwa ia “mencegah penghukuman terhadap para pastor yang dituduh tersebut dan menuntut kerahasiaan untuk melindungi reputasi Gereja” ketika ia memimpin CDF.

Dalam permohonan tersebut dikatakan bahwa dokumen yang dirilis minggu lalu oleh New York Times “dengan tegas menyatakan keterlibatan Paus Benediktus XVI dalam kasus penganiayaan seksual terhadap anak-anak di AS”.

Surat kabar Vatikan, Osservatore Romano, minggu lalu, mengecam apa yang disebutnya sebagai “upaya tercela” untuk merusak citra Paus dan para pembantu terdekatnya “bagaimanapun caranya”. Dalam sebuah editorialnya, koran tersebut memuji keterbukaan, ketegasan, dan kesederhanaan Paus dalam menanggapi kasus-kasus pelecehan seksual oleh para pastor.

Seorang uskup Perancis yang bertemu Paus awal bulan ini mengatakan, Paus amat terguncang oleh tuduhan paedofilia terhadap Gereja Katolik. “Paus tidak mendapatkan haknya atas praduga tak bersalah. Saya memiliki keyakinan pada niatnya untuk memberikan kejelasan,” kata Michel Dubost, Uskup Evry, di dekat Paris.

Benediktus telah berulang kali membicarakan dan meminta maaf atas kejahatan pelecehan seks terhadap anak oleh para pastor dan telah bertemu dengan para korban di AS dan Australia.

Gereja Katolik telah mencanangkan 2010 sebagai Tahun Para Imam dan Benediktus mengatakan, misa Krisma pada hari Kamis Putih–di mana imam memperbarui kaul mereka, termasuk kaul untuk hidup selibat–akan memberikan makna penting.

Skandal paedofilia ini telah membuat sejumlah orang mendesak gereja untuk memikirkan kembali kaul selibat bagi para imam yang telah berjalan berabad-abad. Namun, beberapa wali gereja terkemuka menolak adanya hubungan antara kedua hal tersebut. Benediktus pada awal bulan ini memberikan pembelaan bahwa hidup selibat merupakan tanda pengabdian penuh dan sebuah komitmen total kepada Tuhan.

Pada Jumat ini, Paus akan memimpin prosesi Jalan Salib di Koloseum di Roma untuk mengenang penyaliban Yesus Kristus. Pada Sabtu malam, Benediktus akan memimpin Misa Malam Paskah di Lapangan Santo Petrus. Di tempat yang sama, ia juga akan merayakan Misa Paskah pada hari Minggu yang akan diikuti dengan berkatnya bagi kota dan dunia (Urbi et Orbi). sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s