Polisi Siap Tindak Tegas Ormas Anarkis

Front Pembela Islam (FPI) kembali disebut. Organisasi masyarakat (ormas) ini dituding berada dibalik aksi sekelompok massa menyerang ibadah jemaat di gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Minggu pagi, 8 Agustus 2010.

Untung, kepolisian sudah berjaga-jaga dan menghalangi massa yang tidak ingin ada gereja di Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.

FPI pun bereaksi keras dengan tuduhan serangan ke gereja HKBP itu. Mereka membantah keras. “Tidak ada dari FPI. Tidak benar kabar tersebut. Itu (massa) masyarakat biasa,” ujar Habib Noval, Sekretaris FPI Jakarta.

Apalagi, menurutnya, selama Ramadan, tidak ada instruksi dari pusat ke daerah-daerah untuk melakukan aksi baik itu penggerebekan, penyerangan atau aksi lainnya. FPI, lanjut Noval, berusaha mengikuti instruksi pemerintah dan tidak akan melakukan razia apapun.

“Selama Ramadan saya tegaskan, termasuk hari ini atas nama FPI seluruh Indonesia tidak akan turun, dan mengikuti instruksi pemerintah,” tuturnya.Jadi, lanjut dia, kabar yang mengatakan bahwa aksi di Bekasi dilakukan oleh FPI adalah berita bohong.

Bantahan pun pernah dilontarkan ormas ini saat mereka dituduh ada dibalik aksi massa yang membubarkan acara sosialisasi kesehatan gratis yang digelar Komisi IX DPR di salah satu rumah makan di Kelurahan Pakis, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Juni 2010. Massa menuding pertemuan DPR itu adalah pertemuan komunis.

Salah satu legislator dari PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning pun melaporkan FPI ke Mabes Polri karena telah membubarkan pertemuan dalam rangka kunjungan kerja ke Jawa Timur.

Laporan Ribka ini telah diterima oleh petugas di Badan Reserse dan Kriminal Polri dengan Nomor laporan 240/VI/2010/Barekeskrim dengan terlapor Ormas FPI, Forum Umat Beragama, dan LSM Gerak.

“FPI tidak dapat bertanggung jawab dengan kegiatan apapun yang mengatasnamakan FPI di Banyuwangi. Dan FPI juga tidak bisa dikait-kaitkan lagi dalam peristiwa Banyuwangi,” Kepala Bidang Nahi Munkar (Hukum) FPI, Munarman, di Petamburan, Jakarta Pusat.

***

Catatan panjang mewarnai eksistensi ormas ini. Selain dikenal luas kerap melakukan razia anti judi, pelacuran dan minuman keras, FPI tampaknya punya sasaran yang lebih ideologis. Pada 27 Juni 2005 silam, misalnya, Front itu pernah menyerang Kontes Miss Waria di Gedung Sarinah Jakarta.

Dua tahun kemudian, sekitar Maret 2007, pengikut organisasi itu menyerang massa Papernas, yang rata-rata kaum perempuan di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. FPI menuduh Papernas sebagai partai politik penganut paham komunis.

Yang lebih ramai adalah insiden 1 Juni 2008, ketika FPI menyerang massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) di silang Monas. FPI menuding aliansi itu melindungi kelompok Ahmadiyah, yang dianggap menyimpangkan ajaran agama Islam. Aksi ini berakhir dengan penahanan Rizieq.

Lalu pada 2010, sekitar Maret lalu FPI mengancam akan mengerahkan massa apabila konferensi regional International Lesbian Gay, Bisexual dan Transgender, Intersex Association (ILGA) tetap digelar. FPI tidak menjamin aksi penolakannya akan berlangsung damai. Kongres itu sedianya berlangsung 26-28 Maret itu pun akhirnya dibatalkan.

Pada 30 April 2010, massa FPI mendatangi Hotel Bumi Wiyata di Jalan Margonda Raya, Beji, Depok, Jawa Barat. Mereka membubarkan paksa seminar waria yang tengah berlangsung di dalam hotel.

***

Dalam hitungan hari, umat Muslim akan melaksanakan ibadah puasa di bulan suci, Ramadan. Apakah kekerasan juga akan mewarnai bulan ini seperti sebelumnya?

Pihak kepolisian berjanji akan menindak tegas setiap anggota ormas yang melakukan sweeping  atau penertiban di wilayah Jakarta menjelang bulan suci Ramadhan. Tahun-tahun sebelumnya, tempat hiburan malam biasanya jadi sasaran ‘pembersihan’ ala ormas.

“Penertiban  tidak dibenarkan, tapi bila pengawasan boleh-boleh saja,” kata Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jendral, Timur Pradopo di Islamic Center Jakarta Utara, Minggu 8 Agustus 2010.

Jenderal polisi bintang dua ini menjelaskan, dalam pengawasan itu pun tidak dibenarkan melakukan tindakan anarkis. “Polisi bertugas mengawal undang-undang, jadi jangan sampai berhadapan dengan kami di lapangan. Bila mendapat informasi, laporkan pada kami biar kami yang bertindak,” tegasnya.

Untuk pengamanan menjelang bulan suci ramadhan ini, Polda Metro menambah jumlah personelnya. “Menertibkan hukum bukan berarti melanggar hukum. Kita harapkan adanya peran ormas untuk bisa bersinergi dengan aparat,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolda juga mengimbau agar seluruh tempat hiburan malam di wilayah DKI Jakarta, tidak beroperasi selama Bulan Ramadhan.

Sementara Dandim 0502 Jakarta Utara, Letkol TNI  Irman Jaya, mengatakan Jakarta Utara merupakan titik rawan keamanan ibukota. “Sebagai barometer keamanan, ormas diminta untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif, dengan mentaati peraturan yang berlaku,” ucapnya.

Pihaknya akan menggalang silaturahmi kepada masyarakat sampai ke tingkat yang paling bawah. “Ramadhan waktunya ibadah. Bila suasana tenang, sejuk, dan aman, beribadah juga akan nyaman.”

Laporan: Arnes Ritonga| Jakarta Utara

• VIVAnews

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s