Kawasan Elite Jaksel Juga Terancam Amblas

Tidak hanya Jakarta Utara saja yang terancam tenggelam, kawasan elite di Jakarta Selatan pun menghadapi ancaman serupa. Hanya waktunya saja yang berbeda.

Kalau Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memprediksi Jakarta Utara tenggelam tahun 2030, untuk Jakarta Selatan ancaman menghadang di tahun 2050. Aturan tata ruang yang dilanggar, sistem drainase yang buruk, serta tingginya penggunaan air tanah di kawasan padat penduduk dan perkantoran ini dianggap jadi biang keladinya.

“Sekarang kawasan ini memang relatif aman, karena konturnya lebih tinggi dibandingkan kawasan lain. Namun jika aturan tata ruang tak segera dibenahi, tahun 2050 kawasan ini juga terancam tenggelam,” kata Direktur Eksekutif Walhi Ubaidillah kepada VIVAnews, Selasa 21 September 2010.

Ubaidillah sebelumnya membeberkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan ITB Bandung, terbukti dari laju penurunan tanah Jakarta  meningkat drastis dari 0,8 cm per tahun pada kurun 1982 – 1992 menjadi 18-26 cm per tahun pada 2008, terutama di daerah Jakarta Utara.

Menurut dia, kondisi alam di ibukota telah mencapai titik kronis, penyebab utamanya lantaran minimnya daerah resapan. Dari data yang dimiliki Wahli, setiap tahunnya Jakarta defisit air tanah sebanyak 66,6 juta meter kubik setiap tahunnya.

Dari air hujan sebanyak 2 miliar meter kubik setiap tahunnya mengguyur Jakarta yang terserap hanya 36 persen, sedangkan sisanya terbuang ke selokan dan sungai.

“Jakarta Selatan sekarang masih beruntung karena juga disangga daerah sekelilingnya, termasuk masih banyak lahan kosong,” katanya. Tapi tidak tertutup kemungkinan ambles seiring peningkatan kepadatan penduduk dan infratruktur tanpa perbaikan drainase.

Ubaidillah menilai Pemda DKI tidak menerapkan secara tegas Perda Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, sehingga banyak aturan yang dilanggar. Jakarta Selatan tercatat paling banyak memiliki mal. Catatan Walhi, pada Juni 2009 terdapat 364 pusat perbelanjaan baru dan 57 di antaranya dibangun di Jakarta Selatan. “Kebanyakan tanpa memperhatikan aspek tata ruang wilayah,” kata dia.

Untuk mencegah ‘bencana’ di masa mendatang, Walhi mendesak Pemda DKI Jakarta membahas lagi Perda dan rencana tata ruang wilayah untuk mengantisipasi tenggelamnya Jakarta di tahun 2030. Sehingga bisa diketahui apa-apa saja yang harus dibenahi. “Juga harus ditegaskan soal pengurangan penggunaan air tanah yang kini berlebihan,” kata dia.(ywn)

Laporan: Ajeng Mustika Triyanti

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s