Keringat Darah Dora

Mereka bergegas dari lantai delapan. Dari kamar 814 gedung tinggi itu suster sigap mendorong tempat tidur sang pasien. Seorang satpam sigap membantu. Mereka memasuki lift. Turun ke lantai dasar.

Sang pasien terbaring lemah. Berbalut selimut hijau. Kepala ditutup topi bisbol bewarna gelap. Tidak seperti pasien pada umumnya di rumah sakit itu, wajah pasien yang satu ini ditutupi masker hijau muda.

Dari sela-sela topi dan masker itu, matanya tajam menatap. Tiba dilantai dasar, suster dan satpam itu bergerak cepat. Bergegas di antara para pengunjung yang lalu lalang di sana.

Ketika sejumlah pasien lain senang dikunjungi sanak saudara Rabu sore 15 Juni 2011 itu, pasien wanita berambut pendek itu digiring ke kamar pemeriksaan. “Mau di-CT Scan,” kata sang suster sembari terus bergegas mendorong.

Selain tetangga pasien, suster dan satpam di lantai delapan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu, tak banyak yang tahu bahwa wanita yang terbujur itu adalah Dora Indriarti Trimurni, yang tiga pekan belakangan namanya ditaruh di halaman muka sejumlah media massa.

Wanita ini membuat dunia medis membelalakkan mata, dijenguk sejumlah tokoh, ditunggu para wartawan. Dan itu karena penyakit yang menderanya . Mahasiswi berusia 26 tahun menderita penyakit langka. Super langka di muka bumi ini. Keringat darah.
*****
Keringat darah. Selama ini kita memakai kalimat itu sebagai perumpaan. Untuk menunjukkan kerja keras yang luar biasa. Tapi ini dalam arti harfiah. Arti yang sebenarnya. Dora kerap kali berkeringat darah. Mengucur dari dari pori-pori di kepalanya.

Nama medis penyakit itu adalah Hematohidrosis atau Hematidrosis. Sejauh ini, dari laporan kalangan medis di seluruh dunia, baru 80 kasus penyakit keringat darah. Di seluruh Indonesia, baru Dora itulah yang diketahui.

Kedokteran modern juga masih belum tahu pasti, apa penyebab dan obat dari penyakit ini. Begitu pula dengan tim dokter yang kini tengah berjibaku menyembuhkan Dora itu.

Dora sempat dirawat di Rumah Sakit M Djamil Padang, akhirnya pihak rumah sakit angkat tangan. Dora kemudian dirujuk untuk dirawat di RSCM Jakarta. Baru sepekan lebih ia dirawat, dan tim dokter pun belum berani menarik kesimpulan, apa penyebab penyakit Dora.

Penyakit unik ini sebenarnya sudah lama bersemayam di tubuh Dora. Keringat berdarah mulai menggelayuti langkah Dora sejak tahun 2003. Namun, selang sekitar 8 bulan, penyakit itu raib entah ke mana. Hingga akhirnya sejak dua tahun belakangan ini, penyakit itu mulai kembali mengakrabi dirinya.

Di saat penyakit datang, darah sekonyong-konyong akan mengucur dari sela pori-pori kepala. Pemicunya adalah kelelahan atau stress. Tak heran bila pihak RSCM menjaga Dora begitu ketat. Wartawan tak boleh mewawancarai. Pintu kamar Dora dijaga sepanjang hari. Bahkan terkadang oleh tiga orang petugas keamanan sekaligus.

Padahal, sejak masih dirawat di RS M Djamil Padang, Dora mengaku selalu ingin buru-buru pulang. “Saya merasa sudah sembuh,” kata Dora kepada VIVAnews saat itu. Rumah sakit, kata Dora, hanya membuatnya merasa seolah-olah semakin sakit. Lagipula, Dora tak biasa tidur siang malam disemprot hawa sejuk mesin pendingin ruangan.
***
Dora memang berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil Dora hidup susah. Ayahnya seorang bekas tentara, mendidiknya dengan keras. Dora kecil tumbuh menjadi anak yang aktif dan tomboi. Ciri tomboinya masih terlihat hingga kini, yakni rambutnya yang selalu dipangkas pendek seperti anak laki-laki.

“Segala jenis pohon selalu ia panjat sampai ke ujung-ujungnya,” ujar ayah Dora, Indra, 51 mengenang masa kecil anaknya itu. Dora memang punya rasa keingintahuan yang sangat besar. Dan masa kecil Dora dilalui dengan lancar tanpa ada keluhan penyakit serius seperti yang dideritanya saat ini.

Di sekolahnya, kata Indra, Dora selalu mengikuti segala jenis kegiatan sekolah, mulai dari Pramuka, Palang Merah Remaja, hingga bela diri Taekwondo. “Dia menyandang sabuk hitam,” kata ayah Dora bangga. Namun, hubungan rumah tangga Indra dengan ibunya, Nurlisma, memang kurang harmonis.

Pada 2004, Indra, ayah Dora, meninggalkan keluarga mereka di Medan, dan tinggal bersama istri barunya di Duri Riau. Nurlisma musti menjadi orang tua tunggal dan mencari nafkah untuk keluarga dengan berjualan baju bekas di toko loak. Indra sendiri yang tidak memiliki profesi tetap dan kerap menjadi buruh kasar, jarang menengok anak-anaknya.

Selulusnya SMA pada 2005, Dora merantau ke Batam dan sempat bekerja menjadi operator di sebuah perusahaan elektronik. Karena keletihan, Dora pernah mengalami kecelakaan, jatuh dan kepalanya membentur beberapa anak tangga. Namun, Dora tak kapok, ia tetap bekerja dengan giat.

Akhir 2006, ibu Dora, Nurlisma, sakit parah dan dirawat di sebuah rumah sakit Payakumbuh, Sumbar. Akhirnya, Februari 2007 Nurlisma meninggal dunia. Dora syok, ia bergegas ke Payakumbuh.

Saat itulah Dora musti menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua adiknya: Indosi Novia Timurni dan Doni Nofitra Adi Putra. Selanjutnya, Dora tidak kembali ke Batam. Ia dan adik-adiknya kemudian hijrah ke Padang.

Dora bekerja di sebuah perusahaan outsourcing sebagai tenaga office boy di pembangkit listrik milik PLN di PLTG Pauh 5, Padang. Namun, Dora tak mau berhenti mengejar cita-citanya. Sebenarnya, Dora sempat bercita-cita untuk masuk militer dan mengikuti tes masuk Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD). Tapi usahanya gagal karena tinggi badannya tidak memenuhi persyaratan.

Iapun mulai mengejar cita-citanya yang lain. Dora mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta (FH UBH) Padang dan kini telah menginjak semester IV. Pengalaman Dora yang sempat kesulitan mencari pekerjaan, membuat Dora mendaftar di universitas itu sebagai ‘mahasiswa’, bukan ‘mahasiswi’.

Menurut bekas Dekan FH UBH Boy Yendra Tamin, di kampusnya, Dora tercatat berjenis kelamin laki-laki. “Saya juga baru mengetahui ini beberapa waktu lalu, setelah melihat-lihat file akademis mahasiswa,” ujar Boy. Di kampusnya, Dora memang cenderung bergaya seperti seorang laki-laki dan lebih banyak bergaul dengan mahasiswa di kampusnya.

Kepada VIVanews, Dora mengaku, penampilannya sebagai laki-laki ini dilakukannya untuk mempermudah peluang kerja. “Laki-laki kan bisa melakukan pekerjaan apa pun,” ujar Dora. Akibatnya, banyak pula mahasiswi UBH yang kecele dan sempat naksir Dora karena menyangka ia adalah laki-laki.

Setamat SMP, Doni, adik bungsu Dora, melanjutkan SMA di daerah Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, tempat nenek mereka tinggal. Baru pada 2010, adik Dora yang lebih tua, Dwi pergi ke Medan untuk bekerja. Doni pun kembali menyusul tinggal bersama Dora di Padang.

Mereka mengontrak di sebuah paviliun kecil seukuran 4m x 4m yang terletak di Jalan Ulu Gadut, Indarung, Padang. Paviliun itu terdiri dari satu kamar tidur dan sedikit ruang tamu, dengan ongkos sewa Rp 1,5 juta setahun.

Menurut Doni, kesibukan Dora membuat keduanya tidak punya waktu banyak untuk berkomunikasi. Di saat Doni belum bangun, Dora sudah bergegas untuk kuliah. Sepulang kuliah, pada pukul empat sore hari Dora bekerja di PLTG Pauh. Pulang ke rumah pukul sembilan malam, biasanya Dora istirahat sekitar 15 menit, sebelum keluar rumah lagi. Dora tak pernah mau menceritakan Doni ke mana ia pergi setiap malam.

“Kakak hanya bilang mau ke luar sebentar, tapi pulangnya selalu larut malam,” ujar Doni. Biasanya, Dora baru pulang sekitar pukul 03.00 wib. Pada, pukul 05.00 biasanya Dora sudah bangun lagi. Dora yang kerap susah tidur di malam hari ini, kata Doni, juga sering mengkonsumsi obat tidur dan minuman suplemen penyegar stamina.

Awalnya Doni tidak tahu kalau kakaknya ternyata keluar untuk mengojek demi menambah pendapatan sehari-hari. Doni baru mengetahui ‘rahasia kecil’ Dora, saat ia melihat sendiri kakaknya tengah mengojek di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), yang letaknya sekitar 60 km dari rumahnya itu.

Tak hanya itu, Irwansyah, rekan Dora yang menjadi satpam di PLTG Pauh mengatakan bahwa Dora juga kerap menjadi kuli angkut di Matahari Dept Store di Pasar Raya, Padang.

Tapi itu belum seberapa. Ternyata selama ini Doni juga belum tahu ‘rahasia besar’ kakaknya, bahwa Dora mengidap penyakit keringat darah. Awalnya Dora pun selalu menyembunyikan penyakit yang dialaminya. Saat keringat darah Dora kambuh, ia selalu menutup diri ke kamar mandi. Namun setelah satu setengah tahun tinggal bersama, Doni akhirnya paham juga.

Menurut Doni, keringat darah Dora sering muncul ketika cuaca panas. Kondisi kamar yang terbilang pengap membuat Dora akan berkeringat dan merasa pusing. Selanjutnya,darah dari bagian kepala Dora akan mulai mengucur. Beberapa waktu setelah itu Dora biasanya akan jatuh pingsan.

Tak hanya di rumah, Dora pun sering jatuh pingsan dan mengeluarkan keringat darah saat mengikuti perkuliahan maupun saat bekerja. Sebelumnya Dora bisa saja tak ambil pusing dengan penyakit itu. Sambil meletakkan kain lap di kepalanya, ia sering memaksakan diri untuk terus beraktivitas. “Dulu walau berkeringat darah saya masih bisa tetap bekerja,” kata Dora.

Tapi, belakangan penyakit ini bertambah parah. “Darah tidak hanya mengalir dari kepala, tapi juga lewat telinga, hidung, dan mulut,” kata Doni. Berdasarkan keterangan kawan-kawan Dora di PLTG Pauh, penyakit Dora ini biasa kambuh ketika ia didera oleh banyak masalah. “Saat berpikir berat, keringat akan mengucur dari kepala Dora bercampur darah,” ujar Jhon Fitri, satpam PLTG.

Himpitan ekonomi, terkurasnya waktu dan tenaga, memang bisa menjadi faktor yang membebani pikirannya. Namun, Dora juga seorang manusia. Seorang teman dekatnya mengatakan bahwa Dora juga punya kehidupan asmara. Beberapa waktu lalu, Dora mengaku bahwa ia juga baru putus dengan seorang pria.

Bahkan temannya sempat menyaksikan ketika Dora menangis tersedu-sedu sesaat menerima telepon dari seseorang. Tak lama kemudian Dora pingsan dan berkeringat darah. Berbagai upaya pengobatan pun dilakukan. Tapi tak membuahkan hasil. Bahkan Dora juga sempat mencoba pengobatan alternatif dengan bantuan ‘orang pintar’, namun hasilnya pun nihil.
*****
Setelah sekitar 10 hari dirawat di RSCM, kondisi Dora sudah mulai membaik. Tim dokter kini tengah melacak asal muasal gejala prodromal yang biasanya mendahului sebelum keluarnya keringat darah pada Dora.

“Sebelum timbul keringat darah itu ada namanya prodromal, misalnya seperti epilepsi itu kan pasti kesemutan dulu, sakit perut dan lain-lain. Kalau Dora prodromalnya sakit kepala, sakit kepala datangnya darimana, itu yang sedang kita cari,” ujar dr Shufrie Effendy, anggota tim dokter Dora kepada VIVAnews, Jumat 16 Juni 2011.

Shufrie mengatakan, Dora mengalami gangguan hemostasis primer, salah satu mekanisme penghentian keluarnya darah secara alami oleh tubuh. Kemungkinan, Dora memiliki kelainan pada trombosit atau pembuluh darahnya. “Dari fungsinya kemungkinan ada kelainan trombosit jenis Glanzman atau Bernard-Soulier, atau datangnya dari faktor von Willebrand,” Shufrie menjelaskan.

Intinya, bila terjadi kebocoran pada pembuluh darah, seharusnya keping darah atau pembuluh darah bisa segera menambal kebocoran itu untuk mencegah pendarahan. Namun bila hal ini tidak terjadi, maka pendarahan akan berlangsung lama. Bila terjadi di sekitar kelanjar keringat, ia akan menjadi penyakit keringat darah, kalau terjadi di sekitar kelenjar air mata, maka ia akan menjadi penyakit air mata darah.

Shufrie menambahkan, faktor makanan maupun kebiasaan Dora menenggak obat tidur tidak berpengaruh pada penyakit ini. Konsultan Hematologi-Onkologi Medik Prof Dr Zubairi Djoerban juga mengatakan, penyakit Dora ini juga tidak tak ada kaitannya dengan faktor genetik. Ini selaras dengan keterangan keluarga Dora yang mengatakan bahwa di keluarga mereka sama sekali tidak ada yang mengidap penyakit serupa.

Penyakit ini bisa terjadi pada pasien yang baru berusia delapan tahun, tapi juga bisa menimpa pasien yang bahkan berusia lebih dari 70 tahun. “Jadi intinya dipicu oleh kekhawatiran yang amat dahsyat, atau stress yang berkepanjangan,” kata Zubairi yang kini menjabat sebagai Ketua Senat Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Oleh karenanya, agar keringat darah Dora berhenti mengucur, seharusnya Dora musti lepas dari beban yang berat. “Terapinya harus dengan terapi keluarga. Dora jangan dituntut macam-macam terus. Kalau stresnya hilang, ya pasti penyakitnya hilang.” Kata Shufrie. Tapi Shufrie sadar pada prakteknya, mengusir stress itu tak mudah. “Karena kita mahluk sosial.Orang hidup itu kan memerlukan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri,” katanya

***
Nun jauh dari RSCM, Doni, adik bungsu Dora yang kini tinggal sendirian di Padang pun bingung. Tanpa Dora sebagai pencari nafkah, Doni tak tahu bagaimana cara ia melunasi uang sekolah bulan depan. “Uang sekolah Rp 85.000, bulan lalu dilunasi oleh ayah. Tapi bulan depan masih belum tahu,” katanya pelan.

Entah, masih berapa lama lagi Dora terbujur di rumah sakit itu. Selama dirawat, Dora pun selalu gusar. Bukan gusar dengan penyakit keringat darah itu, tapi dengan nasib adiknya dan pekerjaan yang sudah lama ditinggalkan.

Terbiasa bekerja siang malam, Dora merasa jenuh karena harus berbaring di tempat tidur. “Bagaimana sih, Dok, supaya saya bisa segera pulang?” tanya Dora kepada Shufrie berulang kali. Dora mengaku sudah rindu kampung halaman, rindu kuliah, rindu bekerja, dan rindu mengojek menyambung hidup.

Laporan: Eri Naldi | Padang

• VIVAnews

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s