Jalanan: Pembunuh Kelas Wahid

 Hari cerah. Udara terasa segar di ketinggian 600m di atas permukaan laut. Kabut biasa menyaput, tapi kini tak muncul. Ada sinar mentari menyorot hijaunya panorama perbukitan. Kendaraan VIVAnews melaju menyusuri ruas tol Cikamuning–Jatiluhur, Jalan Tol Cipularang, Selasa 6 September 2011.

Di beberapa tempat ada tambalan jalan, sehingga mobil sedikit berguncang. Sebuah rambu peringatan tak luput dari perhatian. Bunyinya: ”Batas Kecepatan; Maksimum 80 km/ jam, Minimum 60 km/jam. “

Setelah melintas jembatan Cisomang yang panjangnya sekitar 250m, para pengguna jalan tol bakal menjumpai wilayah peristirahatan anyar di tol Cipularang: Rest Area KM 97. Tempat itu mulai beroperasi sejak 12 Mei 2010. Selepas rest area, di sebelah kiri terlihat jurang, dan lembah Gunung Hejo dari kejauhan. Tapi jangan terpukau keindahan pemandangan tempat itu.

Di jalan tol itu, ada ruas yang menurun dan 500m dari situ ada kelokan ke kiri dengan sudut tikungan sekitar 100 derajat. Di sekitar tempat itulah kecelakaan kendaraan banyak terjadi. Di tempat itu juga menjadi kenangan kelam bagi pedangdut Saipul Jamil. Dia kehilangan istrinya Virginia Anggraeni, dalam kecelakaan Sabtu pagi, 3 September 2011.

Kecelakaan itu adalah salah satu dari ribuan kecelakaan lalu lintas yang melonjak tajam selama musim lebaran ini. Angkanya naik sekitar 30 persen dari tahun lalu. Dari hanya sekitar 3000 kasus, menjadi sekitar 4000 kasus.

Tak ayal, ini mengukuhkan reputasi kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu perenggut nyawa paling keji di Indonesia.  Di dunia, kecelakaan jalan raya menjadi pembunuh ketiga terbesar setelah penyakit jantung dan TBC. Di Indonesia, sepanjang tahun lalu, polisi mencatat setidaknya 31.600 jiwa melayang akibat kecelakaan.

Bahkan, Direktur Jasa Marga, Frans Sunito mengatakan setiap hari 100 orang meninggal dunia akibat kecelakaan. Artinya, jalan raya di Indonesia mencabut satu nyawa korban, tiap 15 menit sekali.

Bahaya mudik

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perjalanan mudik bukan pengalaman menyenangkan. Lebih dari 16 juta pemudik tahun ini harus menempuh waktu perjalanan lebih lama dari biasanya. Perjalanan Jakarta–Solo dengan bus normalnya ditempuh 12-14 jam. Pada musim mudik bisa-bisa dilalui sekitar 45 jam.

Tapi mudik terlanjur menjadi tradisi rutin tahunan. Pada momentum inilah pemudik berkumpul bersama keluarga, setelah setahun menabung penghasilan di perantauan. Bagaimanapun, mudik akan tetap dilaksanakan. Sayang, pengaturan dari tahun ke tahun kurang dioptimalkan.

Contohnya, moda transportasi massal seperti kereta api, tahun ini malah berkurang. Data Laporan Analisa dan Evaluasi Angkutan Lebaran 2011 yang dihimpun Kementrian Perhubungan mengungkapkan penurunan signifikan jumlah pemudik menggunakan moda kereta api, yakni sebesar 23 persen dari tahun lalu.

Bila pada 2010 jumlah pemudik kereta api sebesar 2,25 3 juta orang, tahun ini turun menjadi 1,732 juta orang. “Kita bukannya mengurangi, tapi karena memang keterbatasan,” kata Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan Suroyo Alimoeso, Rabu 7 September 2011.

Ketersediaan kereta api tahun ini menyusut, kata dia. “Kalau tahun lalu ada 226 KA, sekarang hanya ada 215 KA. Itu juga karena alasan teknis. Mungkin lokomotifnya dalam posisi perbaikan atau mungkin memang kurang,” Suroyo menambahkan.

Di sisi lain, pemudik menggunakan kendaraan pribadi justru naik jumlahnya. Pengguna sepeda motor naik 5,5 persen dari 2,031 juta kendaraan menjadi 2,143 juta. Bila dikalikan 1,5 (rata-rata penumpang sepeda motor) berarti pemudik bermotor ada sekitar 3,214 juta orang.

Sementara jumlah mobil pribadi yang mudik, naik 1,78 persen, dari 1,312 juta tahun lalu menjadi 1,336 juta tahun ini. Berarti ada sekitar 5,344 juta pemudik menumpang mobil pribadi. Padahal kenaikan pemudik, dan peningkatan jumlah kendaraan tak dibarengi penambahan infrastruktur jalan memadai. Akibatnya, bisa ditebak: kemacetan kian parah.

Pengalaman macet kian menjadi- jadi itu juga diperburuk harga tiket karcis yang mahal. Untuk tiket kereta api kelas bisnis, kenaikan bisa berkisar 70-100 persen. Sementara tiket bis naik 50 persen dari tiket biasa. Kementrian Perhubungan mengakui setidaknya ada 19 perusahaan otobus yang melakukan pelanggaran tarif sesuai ketentuan.

Tak hanya macet, dan kenaikan tarif saja. Tak jaminan keselamatan bagi pemudik. Kemacetan membuat banyak pemudik lelah, atau menjadi tak sabar. Hal ini membuat resiko kecelakaan di jalan kian tinggi. Belum lagi kondisi jalan rusak, kurangnya marka pembatas, rambu, serta kondisi kendaraan kurang prima.

Menurut data kepolisian, seperti dikatakan Suroyo, kecelakaan terbanyak dialami pemudik motor. Angkanya mencapai 70 persen. Artinya, kasus kecelakaan pengguna motor selama musim mudik ada sekitar 2800 kasus.

Dari sisi lokasi, menurut data Analisa dan Evaluasi Kecelakaan Lalu lintas selama Operasi Ketupat 2011 dari H-8 sampai H+5 terjadi peningkatan kecelakaan di jalur utara, jalur tengah, jalur selatan, jalur lintas timur, dan jalur lintas barat antara 11 persen hingga 63 persen. Hanya jalur lintas tengah dan lintas pantai timur jumlah kecelakaan menurun. Kecelakaan terbanyak terjadi di jalur pantura.

Secara keseluruhan, jumlah korban kecelakaan tewas memang berkurang. Dari 771 orang pada 2010, menjadi 710 hingga H+5 tahun ini. Namun, korban luka berat meningkat 17,4 persen, dari 1022 orang pada 2010 menjadi 1200 pada tahun ini. Begitu pula korban luka ringan, naik 47,31 persen dari 2046 orang menjadi 3014 orang di tahun ini. Kerugian yang diakibatkan kecelakaan pun meningkat. Tahun ini kerugian tercatat setidaknya Rp7,5 miliar. Padahal, pada 2010 hanya Rp2,3 miliar.

Liang lahat

Namun Menteri Perhubungan Freddy Numberi tidak ingin disalahkan. Menurutnya, kecelakaan lebih banyak terjadi karena pengemudi lelah dan mengantuk. “Saya bilang kalau orang tidur kita mau ngomong apa, orang lelah kita mau ngomong apa?” kata dia. “Tapi kalau orang lelah musti kita kasih apa, pil ekstasi supaya dia tidak lelah?” kata Freddy saat menghadap Presiden, di kantor Presiden, Selasa lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Polisi I Ketut Untung Yoga Ana mengatakan polisi telah mengerahkan 98.688 personil di seluruh Indonesia untuk Operasi Ketupat, di luar petugas rutin. Mereka menyediakan ribuan posko pelayanan, dan pemantauan di berbagai titik.

Tingginya kecelakaan di jalir mudik juga membangkitkan inisiatif lokal. Misalnya saja penyediaan kuburan korban kecelakaan oleh Dinas Cipta Karya (DCK) Kota Bogor, Jawa Barat, yang telah dilakukan sejak empat tahuh belakangan. Setiap musim mudik lebaran, mereka selalu menyiapkan lubang-lubang kuburan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang ada di wilayah Kota Bogor, seperti di  TPU Kayumanus, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat.

Apapun bentuk antisipasi itu, yang jelas perbaikan musti dilakukan. Statistik menunjukkan tren peningkatan kecelakaan jalan raya, juga terjadi di ruas tol yang kondisinya jauh lebih baik dari jalan biasa. Pada rapat dengan DPR Kamis 8 September 2011, Dirut Jasa Marga Frans Sunito mengakui jumlah korban kecelakaan meningkat di jalan tol, kendati dari segi kuantitas kecelakaan menurun.

“Selama H-7 sampai Kamis ini, korban meninggal meningkat. Tahun lalu 7 orang, tahun ini 10 orang,” kata Frans. Korban tewas terbanyak berada di ruas tol Purbaleunyi. Namun Frans lagi-lagi menunjuk kelalaian pengguna jalan tol sebagai penyebab kecelakaan.

“Faktor jalan hampir tidak ada, karena semua jalan tol memenuhi syarat,” Frans menegaskan. “Anda tahu kecelakaan di Indonesia berapa setiap tahun? Seratus orang per hari meninggal. Anda mau salahkan jalan?” katanya lagi. Menurutnya kecelakaan jalan tol kali ini mendapat sorotan tajam karena menelan korban seorang tokoh publik. “Kebetulan yang meninggal saat ini punya nama.”

Tapi hal itu dibantah oleh Asep, 51, pengemudi truk tronton asal Bandung yang dijumpai VIVAnews di Rest Area Km 97, Selasa lalu. “Sudah bukan rahasia umum Aa’ (Kak-red) , disitu (sekitar Km 97 Cipularanga) banyak kecelakaan. Selain tabrakan, biasanya ada yang terguling atau serempet mobil lain,” kata pria yang secara rutin bolak-balik Bandung –Jakarta mengangkut rangka baja dan bahan-bahan bangunan lain.

Asep menambahkan, bila ada kendaraan yang memacu kecepatan hingga 90 km per jam, maka kendaraan itu biasanya akan oleng karena adanya turunan yang curam dan langsung menikung . “Kontur jalannya yang banyak tambalan juga membuat mobil atau truk tidak stabil Aa’,” kata Asep lagi.

Apa yang dikatakan oleh Asep secara tersirat juga dibenarkan oleh Kapolres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Polisi Bahtiar Ujang. “Sudah tiga kali terjadi kecelakaan di tempat itu selama saya menjabat Kapolres, sejak Maret 2011. Ada yang menabrak pembatas jalan, ada juga yang menabrak truk dari belakang” kata Bahtiar pada  VIVAnews, Selasa 8 September. Oleh karenanya, ia menyarankan agar pengemudi mematuhi rambu terpasang untuk melintas dengan kecepatan 60-80km per jam.

Jalur maut Cipularang?

Banyak cerita beredar di pengguna jalan tol Cipularang, tentang seringnya terjadi kecelakaan di Km 90–Km 100. Ada yang mengatakan lokasi sekitar tempat itu banyak dinaungi mahluk gaib. Soalnya, di Gunung Hejo sering digelar ritual pemujaan.

Tapi tim peneliti geologi LIPI/ ITB GREAT, yang diketuai geolog ternama Danny Hilman, mengatakan daerah itu adalah jalur patahan aktif Lembang yang memanjang dari arah barat-timur. Patahan itu memotong tol Cipularang di Km 92.9.

Pada Minggu 28 Agustus lalu, sempat terjadi gempa 3,3 SR yang membuktikan aktifnya patahan Lembang, dan menyebabkan lebih dari 100 rumah di Cisarua rusak. Tim GREAT mengasumsikan patahan Lembang masih dapat menghasilkan gempa 7 SR, terkait adanya pergerakan tanah sekitar 1-2 meter.

Pemetaan juga memperlihatkan pada sekitar 150 meter di timur lokasi kerusakan akibat gempa, ada sobekan tebing berbentuk huruf U yang membuka ke utara. “Ini bekas Longsor Purba yang cukup besar, dan kemungkinan terjadi akibat gempa besar di masa lalu. Ini cukup mengerikan. Bayangkan kalau longsor seperti ini terjadi sekarang,” kata Danny Hilman, pada ulasan singkatnya mengenai survei gempa di wilayah itu.

Hasil penelitian itu sendiri sejalan dengan kerawanan longsor yang pernah terjadi di wilayah itu. Pada 2006, pihak Jasa Marga mewanti-wanti wilayah-wilayah rawan longsor, yang berada di di Km 83 (Tegalnangklak), Km91+600 (Desa Batu Dadar), 96+800 (Lebak Ater), dan 97+900 (Darangdan).

Helikopter dan ambulans?

Apapun yang menimbulkan kerawanan di daerah itu, menurut Bambang Hariyadi, pakar Geometri Jalan Tol dari Universitas Diponegoro, semestinya pihak penyelenggara tol sudah sejak awal beraksi meminimalkan kecelakaan.

Bambang mengatakan kecelakaan di jalan tol jarang sekali faktor tunggal. Kecelakaan bisa terjadi akibat kontribusi beberapa faktor. Oleh karenanya ia mengusulkan, digantinya pembatas jalan beton dengan pembatas logam yang lebih lentur. Pembatas beton sangat tidak aman bagi pengguna tol.

Selain itu, bila ada kecenderungan jalan terlalu monoton, maka harus diberikan stimulan, agar pengemudi tak jenuh dan tetap waspada. Misalnya memasang speed bar, atau semacam polisi tidur mini berwarna putih yang bisa mengurangi kecepatan kendaraan.

Untuk menghalau angin samping dari arah lembah, bisa ditumbuhkan penghalang berupa vegetasi. “Semestinya penyelenggara bisa melakukan evaluasi tempat-tempat mana yang perlu diperbaiki,” kata Bambang.

Hal serupa dikatakan oleh Guru Besar di bidang Transportasi dari Universitas Brawijaya Malang, Profesor Harnen Sulistio. Menurut dia jalan tol Cipularang yang berbukit-bukit, mirip kondisi jalan Tol Karak sepanjang 60 km di Malaysia yang menghubungkan Kuala Lumpur dan Kota Karak di Pahang.

Prof Harnen yang pernah diminta membantu pemerintah Malaysia untuk mencari formulasi kecepatan ideal di sepanjang jalan tol. Ia menyarankan agar pemerintah mengkaji kembali kemiringan jalan tol dan super elevasi di tol Cipularang.

Meskipun kondisinya sudah memenuhi standar, tetap harus dilengkapi berbagai rambu, peringatan, speed bar, dan alat pengukur kecepatan yang bisa memantau dan menilang kendaraan yang melanggar kecepatan maksimum, secara otomatis. Pengguna tol yang ditilang bisa membayar denda lewat kantor pos yang disediakan. “Bila alat itu dipasang dan denda tilang diterapkan, saya yakin kecelakaan bisa diminimalkan,” kata Harnen.

Hal lain yang musti dibenahi, kata Harnen, adalah sistem respon keselamatan bagi pengguna jalan tol. Semestinya, kata Harnen, di setiap gerbang, pengelola jalan tol menyediakan satu ambulans dan helikopter tanggap darurat untuk penyelamatan kecelakaan. “Bagi korban kecelakaan, respon 30 menit pertama merupakan waktu yang amat menentukan keselamatannya.”

Tapi itu saja belum cukup. Kecelakaan akan terus terjadi jika pemerintah tak segera mengembangkan sistem transportasi massal terpadu dan berkelanjutan. “Selama kita masih mengandalkan sistem transportasi berbasis kendaraan pribadi, masalah kemacetan dan kecelakaan tak akan pernah bisa kita selesaikan.” (np)

(Laporan Ayatullah Humaeni|Bogor)
• VIVAnews

Iklan

One comment

  1. masyarakat harus mulai sadar dengan keadaan sekarang agar tidak ada lagi korban” selanjutnya. ini harusnya ditanggapi serius oleh pemerintah agar gencar melakukan sosialisasi agar selalu safety ridding di jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s