Utha dan Ironi Legenda Musik

Teuku Adi Fitrian alias Tompi asyik berbincang dengan pasiennya saat telepon genggamnya berdering, Rabu sore, 24 Agustus 2011. Suara di seberang sana rupanya musisi senior Mus Mujiono. Mus meminta dia tampil di ‘Charity Melody for Utha’. Malam itu juga.
Tanpa pikir panjang, penyanyi berprofesi dokter bedah plastik itu menyanggupinya.

Sebetulnya saat itu masih jam praktik Tompi. Tapi segera konsultasi dengan pasiennya diakhiri. Padahal masih ada pasien yang antre. “Saya minta izin, kalau ada acara penting mendadak,” katanya saat berbincang dengan VIVAnews.

Sembari merapikan meja kerjanya, ia mengontak Glen Fredly. Mereka rupanya punya maksud sama. Keduanya bergabung dengan sejumlah musisi yang berniat membantu biaya pengobatan Utha Likumahuwa. Hari itu, rekannya Memes, Adjie Soetama, Mus Mujiono, dan Oddie Agam telah menunggu.

Mereka berkumpul tepat di hari ke-20 usai Utha menjalani operasi pengangkatan tempurung kepala akibat stroke di Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru. “Yang saya tahu, saat itu masih kurang biaya sekitar Rp40 juta untuk menutup biaya operasi dan perawatan,” kata Mus Mujiono.

Solidaritas sesama musisi tergerak melihat kondisi Utha. Konser mini dadakan itu lalu menjadi inspirasi kegiatan selanjutnya. Konser lebih besar akan digelar. Rencana dimatangkan, persisnya 30 September mendatang. Hanya, niat mulia itu tersandung kabar duka. Utha meninggal 17 hari menjelang konser.

“Kami sudah janjian. Dia (Utha) setuju banget untuk tampil walau nanti harus pakai kursi roda, saya dan istrinya sudah optimistis karena kondisinya kan sempat membaik saat itu,” kata Vonny Sumlang, yang menggagas acara itu bersama sejumlah musisi.

Wanita yang melambungkan hits ‘Ingin Jumpa’ bersama Utha itu tak ingin ingkar janji. Meski sahabatnya telah berpulang, ia tetap melanjutkan acara itu dengan tema baru: ‘A Tribute to Utha Likumahua’.

Hasil konser amal itu akan diserahkan kepada keluarga Utha. Terutama menutup biaya pengobatan yang masih tertunggak. “Yang saya tahu, masih ada kekurangan karena biaya yang di Rumah Sakit Fatmawati itu gede sekali,” Mus Mujiono menambahkan.

Ironi
Terlepas soal solidaritas, konser amal itu menunjukkan ironi jika menilik kejayaan Utha di masanya. “Kita pernah mengalami Chrisye, Franky Sahilatua, dan sekarang Utha Likumahuwa,” kata Glen.

Glen Fredly menyebut mereka korban industri musik. Para penyanyi itu tak dapat menikmati harta melimpah menjamin hari tuanya. “Saat mereka sakit, kita harus bikin charity. Seharusnya dia bisa hidup dari royalti,” ujar Glen. Tompi setuju (Lihat Infografik: Artis, Royalti, dan Donasi).

Ucapan Glen bukan tanpa alasan. Ada belasan album, belasan hits, dan sederet penghargaan menjadi simbol eksistensi, dan totalitas ketiganya di industri musik sejak 1980-an.

Oddie Agam punya pemikiran serupa. Di balik ironi tercipta, ia menangkap cerita klasik mengenai musisi besar di tanah air yang tak mendapatkan hak mereka sesungguhnya. Tak sedikit dari mereka yang musti banting setir demi bertahan hidup (baca Dari Bar Hingga Kontraktor). “Jadi cuma namanya saja besar. Hidupnya pas-pasan,” ujarnya.

Pengamat musik Bens Leo justru melihat aksi charity itu wujud kepedulian sesama musisi. Jadi, bukan sekedar soal ekonomi. Secara karier, kata Bens, kontrak manggung dan popularitas Utha masih cukup baik. Keluarga besarnya pun cukup mampu.“Mungkin karena ada kebutuhan uang tunai mendadak, dan cukup besar,” ujar Bens.

Pada kasus Chrisye dan Franky Sahilatua, mereka memerlukan bantuan materi karena ongkos rumah sakit yang amat mahal. Keduanya menjalani terapi yang panjang. “Bung Franky itu, misalnya. Dia berada di RS di Singapura, dan itu cukup lama,” ujar Bens.

Royalti
Musisi umumnya punya dua pundi penghasilan: royalti dan bayaran manggung. Royalti adalah imbalan dari pihak yang memakai karya mereka. Selain penjualan album atau ring back tone (RBT), musisi seharusnya juga dapat royalti dari industri lain yang memanfaatkan lagu mereka untuk komersial.

Para pemusik itu berhak mendapat imbalan dari setiap lagu mereka yang diputar di kabin pesawat, ruang karaoke, stasiun televisi, atau tempat hiburan. Kenyataannya, banyak yang tak mau membayar, karena mereka merasa ikut mentenarkan lagu itu.

“Yang perlu kita sosialisasikan pemahaman lagu itu tak akan pernah lahir kalau tak ada pencipta lagu. Dan pencipta lagu itu tak akan populer, kalau tak ada penyanyinya. Dua komponen ini sangat berjasa, dan tidak boleh diabaikan haknya,” ujar Bens.

Di Indonesia, ada beberapa lembaga berwenang mengumpulkan royalti dari pemusik. Ada Karya Cipta Indonesia (KCI). Ada Wahana Musik Indonesia (Wami). Namun, peran lembaga ini kerap dianggap belum maksimal.

Deddy Dores, misalnya. Penyanyi pop yang mencorong di era 80an itu mengaku mendapat royalti lebih banyak dari mancanegara. “Tiba-tiba saya dapat kiriman royalti dari Malaysia. Mereka bilang ada lagu saya yang dipakai, royaltinya S$21 ribu.Pernah dalam setahun saya dapat royalti dari luar negeri Rp300 juta, dari dalam negeri cuma Rp100 juta.”

Wakil Ketua Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri), Arnel Affandi, mengatakan besar royalti setiap musisi tergantung kontrak dengan produser. Royalti untuk penyanyi berkisar lima persen, dan lebih 10 persen dari pendapatan produser atas karya mereka.

Kecilnya persentase royalti musisi dibandingkan produser inilah yang kerap membuat musisi merasa menjadi sapi perah. Lalu, yang terjadi adalah ironi. “Saya nggak nyalahin. Kami penyanyi nggak pinter berbisnis. Misalnya, dapat Rp1 miliar, kami cuma dapat Rp50 juta,” kata Oddie Agam. “Itu belum kalau lagu kami dibajak, kami nggak dapat satu persen pun.”

Menurut Arnel, royalti tergantung popularitas musisi itu. Misalnya Mulan Jameela, persentase royaltinya mungkin bisa maksimal karena dia superstar. “Logika bisnisnya, kalau superstar, biaya promosi yang harus ditanggung produser kecil,” kata pria yang juga menjabat Managing Director Arka Musik, salah satu perusahaan rekaman yang menaungi sejumlah musisi papan atas.

Arnel menegaskan, persentase royalti ditentukan pertimbangan bisnis. “Produser yang mengeluarkan biaya produksi dan promosi, kalau ternyata tak laku kan produser itu sendiri yang akan menanggung,” ujarnya.

Baginya, rekaman hanya kendaraan bagi seorang musisi untuk tetap eksis. Jika mereka mendapat apreasiasi yang baik dari masyarakat, mereka bisa mendapatkan pendapatan besar dari kontrak manggung.

Koperasi dan Asuransi
Melihat banyak musisi sakit, dan kekurangan dana di hari tua, sejumlah musisi senior tergerak membangun Koperasi Pekerja Seni Indonesia (Kopsi) sekitar empat bulan lalu.

Bersama Titiek Puspa, Bens turut membidani kelahiran Kopsi, dia mengatakan koperasi itu akan memberi ruang bagi seniman, dan siapapun yang tertarik untuk menyisihkan penghasilan mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

“Ada unsur koperasinya, tapi ada unsur aspek sosialnya juga. Satu lagi adalah unsur berkaitan dengan asuransi,” ujar Bens. “Dari awal berdirinya 20 orang, sekarang ada 50 orang. Tapi memang sosialisasinya belum tuntas.

”Oddie Agam juga mengatakan, ada gerakan mendorong musisi punya asuransi kesehatan. “Sudah berjalan sekitar 3-4 bulan, namanya Jasa Asuransi Musisi Indonesia,” katanya.

Soal pengelolaan penghasilan, Arnel menambahkan, seorang musisi mampu berjaya hanya sekitar empat tahun. Di masa puncak itu, mereka seharusnya mengelola pendapatannya dengan baik untuk kebutuhan masa depan. “Awetnya kekayaan tergantung bagaimana mereka mengelolanya. Setiap orang bisa bangkrut,” ujarnya. (np)
• VIVAnews

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s